contact info mail to bscc@ymail.com Hp 08819592549


Merapi Punya Hajat

Desa kami di sekitar Girikerto dan Wonokerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman Yogyakarta sejak bulan Oktober 2010 mendapat hantaman luapan energi Gunung Merapi. Istilah masyarakat kami adalah "Gunung Merapi sedang punya hajat" atau punya gawe. Kemeriahan gawe Merapi saat ini melebihi gawenya pada tahun 2006 yang lalu.
Sejak hari Kamis legi malam Jumat tanggal 4 Nopember hampir seluruh warga mengungsi. Kami semua tercecer di berbagai tempat pengunsian. Melalui alat komunikasi yang ada akhirnya satu demi satu dapat dihubungi. Syukur kepada Yang Maha Kuasa, sejak hari Minggu 7 Nopember 2010 warga desa kami sudah dapat diketahui posisinya. Dampak peristiwa ini sangat besar bagi kami. Seluruh kegiatan ekonomi lumpuh. Kami semua tidak bisa lagi mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan kelarga. Pendapatan kami hanya dari kegiatan pertanian. Masyarakat mengandalkan perkebunan salak yang kini roboh, perikanan tidak bisa diharapkan karena air menyusut dan keruh. Kami belum bisa kembali ke desa karena bahaya masih terus mengancam sampai waktu yang belum bisa ditentukan..
Kami mohon doa kawan-kawan semua agar gawe Merapi ini segera berakhir... Entah bagaimana selanjutnya kami harus menata kehidupan kami selanjtnya.. itu adalah pekerjaan rumah warga desa semua...

Senin, 29 November 2010

Alat Komunikasi

Malam ini kami harus menuju ke pedukuhan Ngandong. Letak Ngandong dekat dengan Tritis dan Turgo yang pada letusan tahun 1994 tersapu “wedhus gembel” atau awan panas.  Tujuan ke Ngandong adalah untuk membawa bensin dan busi genset. Sebelum ke Ngandong ketemu dulu dengan mbah Bejo, mas Fajar, mas Semprong, dan kawan-kawan yang sering komunikasi di frequensi 151550. Bensin dan busi itu penting banget untuk menghidupkan genset.
Listrik di dukuh Ngandong memang masih dimatikan. Daerah ini termasuk daerah rawan bencana 2 karena sangat dekat dengan puncak Merapi, kurang dari 10 km. Genset itu perlu sekali karena untuk charge peralatan komunikasi, jadi bukan melulu untuk penerangan. Orang-orang di Ngandung memang masih tetap mengungsi.
Di Ngandong, kawan-kawan yang tergabung dalam Komunitas Peduli Merapi memasang RPU atau Repeater Unit, yaitu pemancar yang merelay pancaran dari alat komunikasi yang pancarannya lemah untuk diperkuat agar bisa terpancar lebih jauh. Peralatan yang digunakan kawan-kawan sebenarnya tergolong masih lemah dan sangat rawan rusak, karena tidak memiliki boks khusus dan hanya ditopang dengan sumber energi dari accu. Sumber tenaga harus selalu dikontrol dan diganti karena accu yang digunakan sangat kecil dan bekas. Entah kapan mereka bisa memiliki perangkat yang baik. Alat ini sangat penting dan terbukti sangat efektif untuk komunikasi di sekitar lereng Merapi terutama saat 'gawe' berlangsung. Bisa dibayangkan kalau alat ini tidak ada, masyakat bisa tidak tahu sama sekali apa yang terjadi.
Kata mbah Bejo yang sering menjadi komandan kawan-kawan di Komunitas Peduli Merapi, alat ini perlu diganti dan dilengkapi dengan sumber energi yang memadai, misalnya accu dengan kapasitas besar dan sumber tenaga matahari atau solar cell. Sayangnya sampai sekarang tidak ada satu pun pihak yang peduli, bahkan termasuk dari pihak pemerintah sebagai pihak yang berwenang.
(bambang Ryadi soetrisno)

Jumat, 26 November 2010

Harapan Masyarakat Turi

emang enak, bikin proposal sambil ngungsi
Tadi sore, markas Kompi kedatangan tamu 2 orang dari Jalin Merapi. Mereka menanyakan berita yang ada di KR hari ini (Jumat 26/11/2010). Apakah pernyataan pak Slamet Riyadi kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman di koran Jogja itu sudah ditindak lanjuti. Kami tidak tahu kalau pak Riyadi merespon rencana itu, karena hingga saat ini memang tidak ada komunikasi.
Saat ini Kompi memang memiliki renacana membuat kompos dan pakan ternak dari daun-daun salak yang sudah dipangkas dan dibersihkan, hanya saja kami tidak memiliki alat. Bahkan kelompok-kelompok tani yang tergabung dalam komunitas ini berusaha untuk membuat proposal meskipun dalam keadaan darurat. Memang agak aneh dalam kondisi masyarakat seperti ini mash saja dibebani dengan persoalan aturan dan prosedur. Seharusnya tugas negara ini melayani rakyatnya bukan rakyat harus mengurus aparat-aparat negara ini. Memang melelahkan. Mudah-mudahan mereka tetap semangat. Mudah-mudahan juga ada orang yang peduli pada rakyat yang sedang membutuhkan bantuan ini.
Kedaulatan Rakyat Jumat 26/11/2010 hal 6.

Kamis, 25 November 2010

Saatnya berbenah



aktivitas masyarakat di Nangsri Girikerto
Hari ini situasi di desa Girikerto dan Wonokerto kelihatan lebih bergairah. Kegiatan masyarakat sudah beraktivitas seperti biasa. Pagi tadi kelihatan anak-anak sekolah sudah masuk dan beberapa orang sudah aktif di kebun salak. Beberapa orang terlihat membersihkan kebun salak dan memanen salak yang masih bisa dikumpulkan. Di beberapa pedagang pengumpul buah salak sudah terlihat tumpukan-tumpukan keranjang berisi buah salak. Harga salak memang sangat rendah dan harga paling baik saat ini hanya 1500 per kg. Semalam ada kawan dari Jakarta telpon kalau harga salak pondoh dari Merapi dijual 2500 per kg. Itu kenyataannya, setelah berhari-hari hidup di pengungsian tanpa penghasilan, sudah pasti masyarakat saat ini membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari. Dengan apa lagi mereka bisa mendapatkan uang kecuali menjual apa yang mereka punya. Buah salak yang bisa dijual tentu kualitasnya buruk. Berdebu dan kurang baik.
kawan Kompi berbenah dibantu pak tentara
Penderitaan masyarakat seperti ini bukan alasan untuk diam dan semakin tenggelam dalam kesedihan. Kawan-kawan Kompi terus berusaha bersama masyarakat melakukan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan. Setelah pertemuan yang dihadiri oleh sebagian anggota Kompi tadi malam, mas Win dan mas Heru mendapat bantuan berbagai peralatan untuk membersihkan tanaman-tanaman salak dan pohon lainnya yang roboh menghalangi jalan. Terimakasih kepada mereka yang memberi bantuan terutama kawan-kawan Bolo Pitulang dari Cebongan, mas Nico, mas Bambang, dan lainnya yang membantu dan memfasilitasi.
siap tempur sambil bergaya
Mulai jam 9 pagi tadi kawan-kawan Kompi sudah turun ke lapangan untuk membersihkan jalan desa. Diawali dari Nangsri dekat kantor desa Girikerto lalu kemudian ke Sorowangsan Wonokerto. Ini saatnya berbenah. Meskipun belum ada pemberitahuan resmi bahwa Merapi mulai tenang, tetapi jika masyarakat mendapat kesibukan akan menjadi obat kegelisahan yang mereka alami berhari-hari kemarin. Besak akan diteruskan. Biar kelihatan bergaya mereka menggunakan seragam dan peralatan yang canggih. Mereka semua adalah masyarakat dari sekitar Turi sendiri dan beberapa kawan dari sekitar Sleman dan Kota Jogja. Selamat bekerja pak.. terus semangat...
(Bambang Ryadi Soetrisno)

Rabu, 24 November 2010

Angin Kencang di Lungguhrerjo Wonokerto.


Angin kencang menambah duka para pengungsi merapi. Sekitar jam 15.00 wib angin kencang melanda pemukiman warga di Lungguhrejo Wonokerto. Saat itu cuaca hujan disertai angin sangat kencang. Beberapa rumah mengalami kerusakan karena atapnya melayang dan genteng rumah berantakan tertiup angin. Be berapa buah rumah tertimpa pohon yang tumbang. Relawan Kompi segera turun ke lapangan dan membersihkan pohon yang roboh.
Suasana malam ini, hari rabu 24/11/2010 sekitar jam 21.30, suasana di perkampungan desa Girikerto Turi terasa tenang.
Beberapa barak pengungsian baru yang menampung dari pengungsian radius lebih dari 20 km banyak yang sudah kosong. Kata beberapa orang di pengungsian Tanggung Glagah Omboh Girikerto Turi, ada pemberitahuan setelah tanggal 24/11/2010 orang-orang boleh pulang ke rumah. Entah pengumuman itu dari siapa. Suasana saat ini memang jauh lebih tenang. Listrik sebagian besar sudah menyala. Tidak ada lagi kelihatan kelompok orang di perempatan atau gardu siskamling yang berjaga-jaga. Pos keamanan untuk desa Girikerto yang tadinya di tempatkan di depan kantor kelurahan sekarang sudah dipindah ke bawah, di pertigaan Karanggawang.

Senin, 22 November 2010

Masa depan kami

Merapi 22/11/2010 16.30 Kemirikebo

Kami semua hidup dari tanah ini. Bumi lereng merapi yang  subur dan memberi spirit kehidupan. Ini saatnya kami berbenah  diri dan menyadari apa yang harus kita perbaiki. Siklus  merapi seharusnya bisa membuka hati kita. Setelah gawe merapi  2006, selama sekitar empat tahunan masyarakat lereng merapi  menikmati berkah dari kesuburan tanah lereng merapi. Kebun  salak yang tidak ada duanya di seluruh dunia. Air jernih dan  udara yang sejuk. Kehidupan di lereng merapi sangat makmur.  Ternak dan usaha perikanan berlimpah ruah.

Jembatan Kemiri kali Boyong rata ditelan lahar dingin

Gawe merapi tidak akan berlangsung tahunan. Mungkin gawe merapi bagi masyarakat jawa di lereng merapi bisa berarti saatnya mengikhlaskan hatinya untuk mengembalikan gegap gempita kehidupannya selama ini pada keseimbangan alam raya. Semua sudah menjadi kehendak sang pencipta, Allah yang Maha Agung.


Pengungsian baru di Tanggung Glagah Ombo Girikerto


Dari semua kejadian yang sudah berjalan selama sebulan ini,kami semua seharusnya tetap semangat untuk menjani kehidupan ini. Meskipun kami tetap tidur di pengungsian, kawan-kawan kompi harus tetap bersemangat untuk menata dan siap menjalani kehidupan selanjutnya. Untuk kelanjutan kehidupan anak-anak dan gernerasi selanjutnya. Setiap malam kami berkumpul untuk mencari ide memperbaiki kerusakan baik fisik yang nyata maupun sistem yang terputus karena kemacetan komunikasi dan jaringan ekonomi yang sempat terhenti.

Salak tidak bisa dipanen, berdebu dan roboh

Jika kebun salak, cabe, dan tanaman pertanian lainnya banyak yang roboh dan gagal panen, setidaknya perlu pembenahan selama sekitar enam bulan agar bisa menghasilkan lagi. Jika kolam  ikan gagal panen, setidaknya menunggu waktu selama tiga bulan untuk memperbaiki kesehatan kolam dan dapat memanen ikan lagi.

Kolam ikan keruh dan perlu dibenahi

Jika susu sapi dan kambing etawa tidak bisa diperah  lagi setidaknya membutuhkan waktu sekitar beberapa bulan  untuk memulihkan produksi sampai bisa normal lagi. Jika banyak usaha ekonomi yang terhenti setidaknya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memulihkan penghasilan masyarakat agar bisa pulih dan lancar kembali.

Susu kambing etawa tidak lancar lagi

Selama beberapa bulan yang sudah pasti kami tanpa penghasilan, kami harus memutar otak, agar kehidupan kami bisa pulih kembali. Bagaimana selama beberapa bulan ini kami bisa menemukan penghasilan dan tidak harus membuat kami menjadi mangsa yang empuk dari binatang ekonomi yang rakus. Kami memang membutuhkan bantuan, tetapi bantuan tidak harus membuat kami semakin terpuruk.


Usaha apa ya... yang dalam beberapa bulan ini bisa memberi kami penghasilan. Pasti kami tidak mau jadi TKI, meskipun mendapat HP gratis.. he6x. Kalau kami bisa mendapatkan ayam petelor yang sudah siap telor bisa juga, tetapi harga ayam petelor dan biaya pakan ayam petelor cukup mahal. Menanam sayuran butuh lahan dan tanah kami sudah penuh dengan kebun salak. Usaha olahan buah salak bisa juga untuk memanfaatkan salak yang tidak bisa dijual dan dihargai murah karena penuh debu, tetapi kami tidak memiliki sarana pengolahnya.. Mudah-mudahan ada ide bagus yang bisa membuat kami keluar dari kesulitan ini. Tolong bantu kami mencari jalan keluar. Apa mi instant yang numpuk sekarang bisa mengganjal perut kami dan untuk keperluan sehari-hari bisa dibayar dengan mi instant.. nggak kan..
(bambang ryadi soetrisno)

Minggu, 21 November 2010

Barak Pengungsi Mulai Ditinggal Pulang

Banyak barak pengungsian saat ini sudah ditinggal pulang pengungsi. Di Bolawen (bukan Bulawen) yang tadinya ada sekitar 500 pengungsi, sekarang mungkin sudah tinggal separuhnya. Kalau sebelumnya banyak yang pulang di siang hari dan malamnya balik ke pengungsian, sejak hari sabtu tanggal 20 Nopember 2010 kemarin banyak yang sudah berani tidur di rumah.  Orang-orang Girikerto juga demikian, sebagian sudah banyak yang pulang. Meskipun sampai saat ini listrik di sebagian besar wonokerto dan Girikerto masih padam, begitu juga sinyal HP masih blank.
Suasana kampung sekarang relatif sudah ramai. Banyak kendaraan sudah mondar-mandir.  Siapa yang betah tinggal di pengungsian? Dan siapa sekarang yang tidak pening dengan kehidupan ekonomi keluarga yang saat ini masih lumpuh. Mas Win dan kawan-kawan KOMPI  beberapa hari ini terus konsolidasi soal bagaimana menyangga ekonomi keluarga yang lumpuh. Banyak orang mengobral ternak dan salak dari kebun yang tersisa asal jadi uang, yang penting jadi uang untuk keperluan sehari-hari, terutama untuk mondar-mandir dari rumah ke pengungsian. Selain itu juga biaya komunikasi, ya.. beli pulsa HP. Pengeluaran untuk komunikasi  dan mobilisasi keluarga sekarang jauh melebihi pengeluaran untuk makan dan rumahtangga sehari hari. Apalagi ada pemberitahuan dari sekolah bahwa hari senin 22 Nopember 2010 anak-anak harus mulai masuk sekolah.

Sabtu, 13 November 2010

Pengungsian Mandiri Bingung Status

Pak Sidik kepala dukuh Kemirikebo Girikerto Turi Sleman
selalu setia mendampingi warganya..
Sejak tanggal 4 Nopember 2010, setelah kawasan daerah bahaya diperluas paska letusan besar Merapi. Banyak masyarakat kebingungan dan mengungsi di berbagai tempat. Mereka disebut sebagai pengungsi mandiri. Sebenarnya pemerintah daerah menyediakan tempat-tempat pengungsian, seperti di GOR, sekolahan, dan gedung fasilitas pemerintah lainnya. Di tempat pengungsian pemerintah tersedia banyak fasilitas dan logistik berlimpah, tetapi kondisinya umumnya semrawut dan banyak orang. Di tempat ini biasanya kekurangannya adalah MCK, air bersih, atau penanganan sampah yang semakin menumpuk. Banyak anak-anak yang stres di pengungsian masal ini. Di pengungsian mandiri awalnya memang enak, tidak banyak orang dan lebih tenang untuk anak-anak. Pengungsian mandiri menyediakan logistik dan keperluan pengungsi melalui gotongroyong masyarakat sekitar. Dari mulai nasi bungkus sampai alat mandi dibantu warga yang ketempatan. Akan tetapi setelah satu minggu waktu berjalan, mereka mulai kehabisan logistik.
Menumpuknya logistik di pengungsian resmi dan minimnya logistik di pengungsian mandiri ini menjadi pembicaraan orang di Jogja. Kami mendapat banyak tamu dan telpon yang meminta logistik dan fasilitas untuk pengungsi mandiri. Akan tetapi memang sulit mengatasi masalah ini, kecuali jika di pengungsian mandiri itu ada relawan yang bisa mengurus dan membantu para pengungsi mandiri dalam mengatasi kebutuhannya.
Beberapa warga Kemirikebo juga tak terhidari dari masalah ini. Beberapa dari mereka juga ada yang tercecer dan mengungsi di tempat yang tidak diketahui tempatnya. Pak dukuh, Sidik memang aktif mendata warganya. Dia selain mengurus ternak, keamanan lingkungan pedukuhannya, dan keselamatan keluarganya sendiri, pak dukuh setiap hari berkeliling dan menghubungi tempat-tempat pengungsian untuk mengetahui apakah ada warganya di tempat itu. Bukan hanya sekadar mengetahui tempat warganya, pak dukuh bersama timnya juga berusaha memenuhi kebutuhan logistik dengan mencarikan akses pada sumber-sumber logistik.
Relawan KOMPI juga sangat berperan dalam membantu pak dukuh. Relawan adalah fasilitator bagi pengungsi. Setiap relawan KOMPI bertanggung jawab pada kelompok pengungsi yang harus difasilitasi kebutuhannya. Pengungsi yang didampingi oleh relawan KOMPI tidak boleh kebingungan atau ikut antri mencari nasi bungkus, selimut atau alas tidur. Relawan harus berusaha mencari sumber dan barang kebutuhan pengungsi. Relawan KOMPI harus mendata dan mendaftarkan pengungsi yang dibawah fasilitasi KOMPI agar para pengungsi mendapat status yang jelas. Tentu saja para relawan sebagai fasilitator tidak bisa berjalan sendiri tanpa koordinasi dengan para perangkat desa dan lainnya. Insya Allah dengan demikian kesemrawutan pengungisan terutama para pengungsi mandiri bisa teratasi.  (ryadi soetrisno)

Jumat, 12 November 2010

Merapi (watch out): Hidup di Pengungsian

Warga telah semua mengungsi. Bagaimanapun hidup di pengungsian tidak akan pernah nyaman. Apa enaknya makan tidur namun setiap saat gemuruh Merapi selalu mencekam. Gemuruh Merapi selalu terdengar, bahkan ketika kami semua terlelap sejenak karena kelelahan. Kami selalu terjaga dari tidur sejak tanggal 26 Oktober 2010.
Kekuatiran yang juga sangat besar adalah pada ternak-ternak yang tertinggal. Di pedusunan kami ada ratusan ternak sapi dan kambing etawa. Ternak yang menjadi tumpuhan masyarakat selain usaha tani dan perikanan. Sudah pasti setelah gawe Merapi ini, ekonomi tidak akan pulih dengan cepat...
Para pemuda desa dan kaum lelaki memang terus berusaha untuk mengamankan aset masyarakat. Terkadang jika gemuruh Merapi agak mereda, mereka berusaha mengirim suplai pakan yang bisa diambil dari pepohonan di sekitar kawasan komplek perkantoran kabupaten Sleman. Meskipun pakan hijauan yang didapat juga bercampur debu yang mengandung belerang.
Untuk mengirim suplai pakan yang mengandung risiko bahaya terkadang harus diterobos. Dalam tiga hari ternak yang tidak mendapat pakan akan 'klenger'. Tentu saja mereka membutuhkan alat komunikasi yang cepat dan alat mobilisasi yang selalu siap. Jalan-jalan desa yang saat ini tertutup pohon yang rebah sangat menyulitkan. Alat komunikasi yang digunakan adalah HT dan HP. HT hanya terbatas dan dipegang oleh beberapa orang saja. Sedangkan HP sebenarnya hampir semua orang memegang, tetapi tingginya intensitas komunikasi maka kami semua kekurangan pulsa.. Bahkan beberapa BTS di lereng Merapi saat ini banyak yang mati dan HP tidak lagi bisa digunakan.
Mudah-mudahan kami semua selamat.. meskipun kami kelelahan.. ini hidup dan masa depan kami. Mudah-mudahan energi Merapi akan memberikan semangat hidup dan memberi masa depan yang cerah bagi kami. Ya.. Allah lindungi dan beri kami kekuatan menghadapi cobaanMu. Kami menyadari Engkau menyayangi kami semua.. Ini semua menyadarkan kami atas kuasaMu dan mengingatkan kami atas kesalahan-kesalahan kami.. Bimbinglah kami agar selalu di jalanMu... Amin

Kamis, 11 November 2010

Hari yang menjemukan

Mudah-mudahan hari selanjutnya bukanlah hari yang menjemukan seperti hari ini. Meskipun tadi malam melihat pertunjukkan wayang di GOR Maguwo, yang kata kawan pengungsi lainnya 'wayang kok gak pake gamelan' tapi hiburan itu sepertinya berlalu tanpa kesan.
Siang tadi semangat kawan-kawan hampir menurun. Mengumpulkan orang-orang untuk ramban pakan rasanya susah banget. Awalnya cuma 3 orang, mas Heru, mas Win, dan mas Parjana, meramban di jalan arah Cebongan. Sekitar jam 11 siang lalu datang 3 orang lagi dari kawan-kawan yang mengungsi di GOR Pangukan. Akhirnya sampai jam 1 siang dapat 2 mobil rambanan sono kapur, dan tanaman-tanaman yang mau dimakan kambing etawa.
Kabar yang menggembirakan tadi siang dari pak Sidik kepala dukuh Kemiri Kebo adalah, beberapa kambing sudah dievakuasi. Tetapi memang masih belum semuanya, kabarnya dari dukuh Sukorejo, 300 ekor kambing etawa, hampir semuanya sudah dievakuasi. Sayangnya 600 ekor dari dukuh Kemiri Kebo belum ada yang dievakuasi dan malah sudah ada yang mati sakit.
Setelah mendapatkan pakan, kami langsung ke atas menuju Karang Gawang untuk mendrop rambanan. Cuaca sangat tidak bersahabat. Di kabupaten angin kencang bertiup. Di sekitar Kembang Arum tiba-tiba langit gelap. Ternyata bukan mendung hujan, tetapi awan debu Merapi menutupi langit, cukup gelap dan hujan abu mulai turun. Kami tidak mendengar suara gemuruh tetapi langit gelap, angin yang bertiup cukup kencang dan hujan abu membuat kami panik. Mas Win dan mas Heru tertidur, katanya untuk mencari inspirasi nanti setelah semua berakhir 'apa' yang harus dilakukan oleh masyarakat. Mudah-mudahan ada ide yang bagus.. tetapi terus terang, agaknya sangat sulit berpikir dalam kondisi seperti ini.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.30, dan malam terasa cepat sekali datang di Karang Gawang. Pak dukuh Kemiri Kebo yang minta ditunggu karena harus naik ke atas untuk suatu urusan akhirnya kami tinggal turun. Keadaan jalan sudah gelap, karena listrik di wilayah ini memang padam. Selama di Karang Gawang kami semua tidak bisa berkomunikasi dengan kawan-kawan lainnya karena sinyal HP semuanya tidak ada.
 Mas Parjana.. piye iki..
 Beberapa kambing etawa yang dievakuasi..
Wayangan di GOR Maguwo..

Rabu, 10 November 2010

Awan debu pekat menutupi langit Girikerto, menghalangi sinar matahari.. tidak ada hujan debu dimana-mana..
--
email:
bscc@ymail.com

kegiatan

Info Posko pendataan orang hilang SAR DIY: 
koordinator an Hasto 08122743726
1. Posko GOR Pangukan an Danu 085722333296
2. Posko JEC an Mendi 085643352362
3. Posko Sadan Paingan an Dewi 085726811231
4. Posko gelanggang mahasiswa UGM an Dika 085643696693
5. Posko GOR maguwo harjo an Tito 087839968199
6. POSKO YKPN an Nata 085760612111
7. Posko UPN baru dikondisikan


--
Biological Science Club
Pusat Laboratorium Universitas Nasional,
Jl Harsono RM, No. 4
Ragunan, Jakarta Selatan 12550
Hp: Bambang Ryadi 08819592549
http://bscc-unas.blogspot.com/
http://kampungbio.blogspot.com/
email:
bscc@ymail.com
ryadi.bambang@gmail.com

Selasa, 09 November 2010

KOMPI Merapi

KOMPI (Komunitas Peduli Merapi)

Tadinya, beberapa orang dari dusun sekitar kecamatan Turi bermaksud menjadi relawan untuk membantu saudara-saudara dari dusun lain yang terkena lebih berat dari gawe Merapi. Kelompok ini dinamakan KOMPI atau Komunitas Peduli Merapi. Markasnya terletak di dukuh Karang Gawang Girikerto Turi Sleman di kediaman pak Winarto atau dikenal dengan mas Win. Orang-orang yang tidak pernah kenal lelah antara lain mas Heru, mas Njoko, mas Suhar, mas Kunto, mas Parjana dan lain-lainnya...
Aktivitas KOMPI ditopang dengan beberapa kendaraan bak terbuka yang standby dan beberapa kendaraan yang selalu siap untuk bergerak mengevakuasi warga di sekitar desa Girikerto dan Wonokerto. Kelompok ini juga ditopang dengan peralatan komunikasi yang dimotori kawan-kawan penggemar radio komunikasi seperti yang dikenal dengan panggilan mbah Bejo, mbah Gareng, dan Noto. Alat komunikasi ini selalu memonitor kondisi Merapi dan memberi peringatan pada kawan-kawan untuk siap mengevakuasi atau ketika siaga saat memberi makan ternak. Pada awalnya radio komunikasi masih bisa bertahan di jarak 8km dari Merapi, tetapi sejak tanggal 4 Nopember 2010 yang lalu semua peralat sudah dipindah ke bawah dan saat ini HT menjadi alat komunikasi yang paling efektif. Sayangnya perangkat HT yang dimiliki sangat minim sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan..
 Dalam kondisis darurat KOMPI tetap melakukan koordinasi bersama warga Pak Dukuh dan relawan lainnya. Membicarakan jalan terbaik, menempuh risiko terkecil, melindungi dan menyelamatkan keluarga. Dimana saja dan kapan saja selagi sempat.. Jangan lupa istirahat pak... jaga kondisi.. Entah sampai kapan....
 Markas KOMPI di rumah mas Win, yang sudah kosong ditinggal ngungsi. Kadang-kadang masih ditiliki untuk koordinasi dan titik temu sanak saudara yang tercecer di pengungsian.
 Mas Win yang lincah dan tidak pernah lelah mendampingi masyarakat. Tempat mengadu dan selalu sabar.
 Mas Kamidi, yang selalu siap dan manuuuut!!! Yang sabar ya mas... ini saatnya kita saling membantu dan berbuat baik pada sesama...
 Mas Heru.. sang Seniman kita yang tegap dan gagah berani menerobos hambatan.. meskipun garang dia adalah guru yang baik. Hatinya lembut dan sabar.. ayo mas semangat jangan padam...
Mas Joko, meskipun dia dari Kwarasan, dusun yang relatif kecil terkena dampak gawe Merapi, selalu setia menemani dan memberi semangat kawan-kawan KOMPI.

Solidaritas Kampung

Masyarakat Jogja tidak akan pernah kehilangan solidaritasnya.. beberapa pedusunan yang relatif tidak terlalu parah terkena dampak gawe Merapi menunjukkan solidaritasnya membantu saudara-saudara dari dusun yang terkena dampak langsung gawe Merapi. Mereka membantu dengan menyadiakan tempat pengungsian dan menyediakan logistik sampai mengumpulkan hijauan untuk pakan ternak..

 Pak RW 06 Dukuh Sinduadi Ngaglik Mlati Sleman bersama warganya membantu masyarakat dari desa Girikerto dan Wonokerto yang terkena dampak lebih berat dari gawe Merapi dan harus mengungsi.
 Pemuda-pemuda dari dukuh Sinduadi Ngaglik Mlati Sleman, Kwarasan Nogotirto Gamping, dan Pingit kota Jogja, membantu mencari pakan hijauan untuk ternak warga Girikerto dan Wonokerto.
Pemuda-pemuda dari dukuh Sinduadi Ngaglik Mlati Sleman, Kwarasan Nogotirto Gamping, dan Pingit kota Jogja, membantu mencari pakan hijauan untuk ternak warga Girikerto dan Wonokerto. Mereka mencari hijauan pakan ternak di sekitar dusun yang relatif tidak terlalu parah terkena dampak gawe Merapi.

Senin, 08 November 2010

Merapi (watch out): Gotong Royong untuk Pakan Ternak

Hari ini setelah berhasil menelusuri lokasi pengungsian kawan-kawan “ndeso’ diketahui, akhirnya kami koordinasi di pos yang baru. Pos kwarasan. Pos ini dilengkapi dengan radio komunikasi dan armada roda empat bak terbuka, dan beberapa sepeda motor. Semuanya milik pribadi kawan-kawan ‘ndeso’. Di ini kami merencanakan bagaimana mencari hijauan dan mendistribusikan ke desa.
Pagi tadi terkumpul hijauan yang dikumpulkan dengan bantuan pemuda-pemuda dari pedukuhan sekitar Mlati dan Kwarasan Gamping Sleman. Terkumpul beberapa ikat dan langsung dibawa ke kandang. Meskipun peralatan komunikasi masih terbatas, kami sampai tadi sore sudah bisa ngedrop di kandang sekitar Kemiri Kebo.. Alhamdulillah.
Mendapat bantuan warga untuk mengumpulkan paka ternak.
Pak Win.. Lumayan dapat satu bak mobil..
Mas Heru.. bangun tidur langsung mbabat..
Pos baru.. di Kwarasan

Merapi (watch out): Hidup di Pengungsian




Warga telah semua mengungsi. Bagaimanapun hidup di pengungsian tidak akan pernah nyaman. Apa enaknya makan tidur namun setiap saat gemuruh Merapi selalu mencekam. Gemuruh Merapi selalu terdengar, bahkan ketika kami semua terlelap sejenak karena kelelahan. Kami terjaga dari tidur sejak tanggal 26 Oktober 2010.
Kekuatiran yang juga sangat besar adalah pada ternak-ternak yang tertinggal. Di pedusunan kami ada ratusan ternak sapi dan kambing etawa. Ternak yang menjadi tumpuhan masyarakat selain usaha tani dan perikanan. Sudah pasti setelah gawe Merapi ini, ekonomi tidak akan pulih dengan cepat...
Para pemuda desa dan kaum lelaki memang terus berusaha untuk mengamankan aset masyarakat. Terkadang jika gemuruh Merapi agak mereda, mereka berusaha mengirim suplai pakan yang bisa diambil dari pepohonan di sekitar kawasan komplek perkantoran kabupaten Sleman. Meskipun pakan hijauan yang didapat juga bercampur debu yang mengandung belerang.
Untuk mengirim suplai pakan yang mengandung risiko bahaya terkadang harus diterobos. Dalam tiga hari ternak yang tidak mendapat pakan akan 'klenger'. Tentu saja mereka membutuhkan alat komunikasi yang cepat dan alat mobilisasi yang selalu siap. Jalan-jalan desa yang saat ini tertutup pohon yang rebah sangat menyulitkan. Alat komunikasi yang digunakan adalah HT dan HP. HT hanya terbatas dan dipegang oleh beberapa orang saja. Sedangkan HP sebenarnya hampir semua orang memegang, tetapi tingginya intensitas komunikasi maka kami semua kekurangan pulsa.. Bahkan beberapa BTS di lereng Merapi saat ini banyak yang mati dan HP tidak lagi bisa digunakan.
Mudah-mudahan kami semua selamat.. meskipun kami kelelahan.. ini hidup dan masa depan kami. Mudah-mudahan energi Merapi akan memberikan semangat hidup dan memberi masa depan yang cerah bagi kami. Ya.. Allah lindungi dan beri kami kekuatan menghadapi cobaanMu. Kami menyadari Engkau menyayangi kami semua.. Ini semua menyadarkan kami atas kuasaMu dan mengingatkan kami atas kesalahan-kesalahan kami.. Bimbinglah kami agar selalu di jalanMu... Amin

Merapi (watch out): Merapi Punya Hajat

Desa kami di sekitar Girikerto dan Wonokerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman Yogyakarta sejak bulan Oktober 2010 mendapat hantaman luapan energi Gunung Merapi. Istilah masyarakat kami adalah "Gunung Merapi sedang punya hajat" atau punya gawe. Kemeriahan gawe Merapi saat ini melebihi gawenya pada tahun 2006 yang lalu.
Sejak hari Kamis legi malam Jumat tanggal 4 Nopember hampir seluruh warga mengungsi. Kami semua tercecer di berbagai tempat pengunsian. Melalui alat komunikasi yang ada akhirnya satu demi satu dapat dihubungi. Syukur kepada Yang Maha Kuasa, sejak hari Minggu 7 Nopember 2010 warga desa kami sudah dapat diketahui posisinya. Dampak peristiwa ini sangat besar bagi kami. Seluruh kegiatan ekonomi lumpuh. Kami semua tidak bisa lagi mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan kelarga. Pendapatan kami hanya dari kegiatan pertanian. Masyarakat mengandalkan perkebunan salak yang kini roboh, perikanan tisak bisa diharapkan karena air menyusut dan keruh. Kami belum bisa kembali ke desa karena bahaya masih terus mengancam sampai waktu yang belum bisa ditentukan..
Kami mohon doa kawan-kawan semua agar gawe Merapi ini segera berakhir... Entah bagaimana selanjutnya kami harus menata kehidupan kami selanjtnya.. itu adalah pekerjaan rumah warga desa semua...